Perbedaan Definisi TKI dan TKW
Bagaimanakah Perbedaan TKI Dengan Tkw 2025 – Istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) sering digunakan secara bergantian, namun sebenarnya terdapat perbedaan yang signifikan. Pemahaman yang tepat mengenai perbedaan ini penting untuk memahami dinamika migrasi tenaga kerja Indonesia dan kebijakan yang terkait.
Definisi TKI dan TKW Berdasarkan Regulasi Pemerintah
Secara hukum, istilah TKI merujuk pada seluruh warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri, baik pria maupun wanita. Sementara itu, TKW secara spesifik mengacu pada pekerja migran Indonesia perempuan. Meskipun TKW termasuk dalam kategori TKI, penggunaan istilah TKW seringkali menimbulkan konotasi tertentu yang tidak selalu berlaku bagi TKI laki-laki.
Sejarah Penggunaan Istilah TKI dan TKW dan Pengaruh Konteks Sosial
Penggunaan istilah TKW muncul lebih dulu dan lebih sering dikaitkan dengan pekerjaan domestik seperti pembantu rumah tangga di negara tujuan. Istilah TKI muncul kemudian sebagai istilah yang lebih inklusif untuk mencakup semua pekerja migran Indonesia, termasuk yang bekerja di sektor formal seperti perawat, teknisi, dan lain sebagainya. Konteks sosial mempengaruhi penggunaan istilah ini, dengan TKW seringkali dihadapkan pada stigma dan diskriminasi yang lebih besar dibandingkan TKI laki-laki.
Penggunaan Istilah TKI dan TKW dalam Media Massa dan Dokumen Resmi
Media massa cenderung menggunakan kedua istilah secara bergantian, meskipun istilah TKW lebih sering digunakan ketika membahas isu-isu yang spesifik terkait pekerja migran perempuan. Dokumen resmi pemerintah, terutama yang berkaitan dengan kebijakan dan perlindungan pekerja migran, umumnya menggunakan istilah TKI sebagai istilah yang lebih komprehensif. Namun, pembagian data berdasarkan jenis kelamin tetap dilakukan untuk melihat perbedaan tantangan dan kebutuhan masing-masing.
Perbedaan TKI dan TKW di tahun 2025 mungkin tak hanya soal jenis pekerjaan, tetapi juga berkaitan dengan aspek finansial. Misalnya, perencanaan pengeluaran menjadi krusial, terutama jika bekerja di Jepang. Untuk gambaran lebih detail mengenai hal ini, silahkan cek informasi lengkap mengenai Biaya Hidup TKI Di Jepang 2025 , karena perencanaan anggaran yang matang akan sangat berpengaruh pada keberhasilan beradaptasi di negara tersebut.
Kembali ke perbedaan TKI dan TKW, faktor lokasi penempatan kerja dan jenis pekerjaan yang diambil juga turut mempengaruhi perbedaan pendapatan dan pengelolaan keuangan mereka.
Tabel Perbandingan TKI dan TKW
Aspek | TKI (Laki-laki) | TKW (Perempuan) |
---|---|---|
Demografi | Umumnya lebih beragam usia dan latar belakang pendidikan. | Seringkali berasal dari keluarga kurang mampu, dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah. |
Sektor Pekerjaan | Lebih beragam, meliputi sektor konstruksi, manufaktur, perikanan, dan lain-lain. | Lebih terkonsentrasi pada sektor domestik (pembantu rumah tangga), meskipun ada juga yang bekerja di sektor informal lainnya. |
Tantangan yang Dihadapi | Termasuk eksploitasi, diskriminasi, dan masalah hukum. | Menghadapi tantangan yang serupa, ditambah dengan risiko kekerasan seksual dan pelecehan. |
Persepsi Publik terhadap TKI dan TKW dan Pengaruhnya terhadap Kebijakan Pemerintah
Persepsi publik terhadap TKI dan TKW seringkali berbeda. TKW seringkali diasosiasikan dengan pekerjaan domestik yang dianggap rendah dan rentan terhadap eksploitasi. Hal ini dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah, yang mungkin lebih fokus pada perlindungan TKW dibandingkan TKI laki-laki. Namun, upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan dan meningkatkan kesejahteraan seluruh TKI, baik laki-laki maupun perempuan, terus dilakukan.
Perkembangan dan Tren Migrasi TKI/TKW hingga 2025
Migrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), baik laki-laki maupun perempuan (TKW), merupakan fenomena kompleks yang terus berevolusi. Tren migrasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi domestik hingga kebijakan pemerintah di negara tujuan. Memahami perkembangan dan proyeksi migrasi TKI/TKW hingga 2025 sangat penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat dan melindungi hak-hak para pekerja migran Indonesia.
Perbedaan TKI dan TKW tentu saja terletak pada jenis pekerjaannya; TKI merujuk pada Tenaga Kerja Indonesia laki-laki, sementara TKW untuk perempuan. Namun, istilah “TKI” juga bisa merujuk pada hal lain, seperti dalam konteks perkembangan pengobatan kanker. Sebagai contoh, kita bisa melihat perkembangan TKI Tyrosine Kinase Inhibitors di tahun 2025 melalui situs ini: TKI Tyrosine Kinase Inhibitors 2025.
Kembali ke perbedaan TKI dan TKW, perlu diingat bahwa perbedaan ini berkaitan dengan jenis pekerjaan dan peran sosial, bukan pada kemampuan atau kontribusi mereka terhadap perekonomian nasional.
Tren Migrasi TKI/TKW dari Tahun ke Tahun
Data statistik migrasi TKI/TKW menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, pada periode 2015-2020, mungkin terjadi peningkatan jumlah TKI/TKW yang bekerja di sektor informal di negara-negara tujuan tertentu, seperti di Timur Tengah, disebabkan oleh tingginya permintaan tenaga kerja di sektor tersebut. Sebaliknya, di tahun-tahun berikutnya, mungkin terjadi penurunan jumlah TKI/TKW di sektor tersebut karena kebijakan pemerintah negara tujuan yang semakin ketat atau pergeseran permintaan tenaga kerja ke sektor lain. Proyeksi hingga 2025 memperkirakan pergeseran tren migrasi ke negara-negara dengan ekonomi yang lebih stabil dan regulasi ketenagakerjaan yang lebih baik, seperti di beberapa negara Asia Tenggara atau negara-negara di Eropa. Data yang lebih spesifik memerlukan referensi data resmi dari BPS atau Kementerian Tenaga Kerja.
Jumlah TKI/TKW Berdasarkan Negara Tujuan dan Sektor Pekerjaan
Grafik batang yang ideal akan menampilkan data kuantitatif jumlah TKI/TKW berdasarkan negara tujuan (misalnya, Hongkong, Malaysia, Taiwan, Singapura, Arab Saudi) dan sektor pekerjaan (misalnya, domestik, manufaktur, konstruksi, perikanan). Grafik ini akan menunjukkan secara visual negara mana yang menjadi tujuan utama migrasi dan sektor pekerjaan apa yang paling banyak diminati. Sebagai ilustrasi, grafik tersebut akan menunjukkan dominasi sektor domestik di beberapa negara tujuan, sementara sektor manufaktur mungkin lebih dominan di negara tujuan lain. Perlu diingat bahwa data ini bersifat hipotetis tanpa data statistik yang nyata, dan memerlukan data riil untuk membuat grafik yang akurat dan informatif.
Perbedaan TKI dan TKW di tahun 2025 sebenarnya lebih kepada konteks pekerjaan dan jenis keterampilan yang dibutuhkan, bukan lagi sebatas gender. Meskipun demikian, proses perekrutan tetap penting, dan untuk peluang kerja di Kanada, anda bisa mencari informasi lebih lanjut melalui Agen TKI Resmi Ke Kanada 2025. Dengan agen resmi, proses menjadi lebih terjamin dan transparan, sehingga perbedaan TKI dan TKW dalam hal akses kesempatan kerja di luar negeri pun bisa semakin merata.
Faktor Pendorong dan Penghambat Migrasi TKI/TKW
Beberapa faktor mendorong migrasi TKI/TKW meliputi: kesempatan kerja yang terbatas dan upah rendah di Indonesia, upah yang lebih tinggi di luar negeri, harapan untuk meningkatkan taraf hidup keluarga, dan faktor sosial budaya seperti keinginan untuk berpetualang atau menimba pengalaman. Di sisi lain, faktor penghambat meliputi: biaya migrasi yang tinggi, risiko eksploitasi dan penipuan, peraturan imigrasi yang ketat di negara tujuan, dan permasalahan terkait perlindungan hukum dan kesejahteraan TKI/TKW di luar negeri. Perubahan kebijakan pemerintah di Indonesia dan negara tujuan juga dapat berperan sebagai faktor pendorong atau penghambat.
Dampak Perkembangan Teknologi terhadap Migrasi TKI/TKW, Bagaimanakah Perbedaan TKI Dengan Tkw 2025
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan dampak signifikan terhadap migrasi TKI/TKW. Platform online, seperti situs pencarian kerja dan media sosial, memudahkan TKI/TKW untuk mencari informasi pekerjaan di luar negeri dan terhubung dengan calon pemberi kerja. Namun, teknologi juga membawa risiko baru, seperti penipuan online dan eksploitasi digital. Penggunaan teknologi untuk pengawasan dan perlindungan TKI/TKW juga perlu ditingkatkan untuk meminimalisir risiko tersebut. Misalnya, aplikasi pelacak lokasi dan sistem komunikasi darurat dapat memberikan rasa aman bagi TKI/TKW.
Perbedaan TKI dan TKW di tahun 2025 mungkin lebih terletak pada jenis pekerjaan yang umum digeluti, bukan lagi sekadar perbedaan gender. Meskipun demikian, aspek gaji tetap menjadi pertimbangan penting. Untuk gambaran lebih detail mengenai potensi penghasilan, Anda bisa melihat informasi terbaru mengenai Gaji TKI Di Singapura 2025 , yang bisa memberikan referensi untuk memahami perbedaan potensi penghasilan antara keduanya berdasarkan lokasi kerja.
Kembali ke perbedaan TKI dan TKW, faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah keterampilan dan keahlian yang dimiliki, bukan hanya jenis kelamin.
Potensi Perubahan Kebijakan Pemerintah yang Mempengaruhi Migrasi TKI/TKW
Pemerintah Indonesia dapat memainkan peran penting dalam mempengaruhi tren migrasi TKI/TKW. Kebijakan yang berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada migrasi untuk mencari nafkah. Penguatan perlindungan hukum dan kesejahteraan TKI/TKW di luar negeri, serta peningkatan kerja sama bilateral dengan negara tujuan, juga sangat penting. Sebagai contoh, peningkatan diplomasi dengan negara tujuan untuk menjamin hak-hak TKI/TKW dan mencegah eksploitasi akan sangat berpengaruh. Kebijakan yang lebih terintegrasi dan komprehensif dibutuhkan untuk memastikan migrasi TKI/TKW yang aman, tertib, dan bermartabat.
Perlindungan dan Kesejahteraan TKI/TKW di Tahun 2025
Perlindungan dan kesejahteraan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) merupakan isu krusial yang terus menjadi perhatian pemerintah dan berbagai pihak. Pasca pandemi Covid-19 dan dengan perkembangan global yang dinamis, upaya untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan TKI/TKW hingga tahun 2025 dan seterusnya memerlukan strategi yang komprehensif dan berkelanjutan. Berikut ini beberapa poin penting terkait program dan tantangan yang dihadapi.
Perbedaan TKI dan TKW di tahun 2025 lebih menekankan pada spesialisasi keahlian daripada gender semata. Meskipun demikian, aspek gaji tetap menjadi pertimbangan penting, khususnya bagi mereka yang bekerja di luar negeri. Untuk gambaran lebih detail mengenai potensi pendapatan, silahkan lihat informasi mengenai Gaji TKI Jepang Sektor Pabrik 2025 , yang bisa menjadi acuan bagi para calon pekerja migran.
Dengan begitu, perencanaan karir dan pemenuhan kebutuhan ekonomi para TKI dan TKW dapat lebih terarah dan terukur di masa depan. Kembali ke perbedaan TKI dan TKW, fokusnya kini bergeser pada kompetensi dan jenis pekerjaan yang dipilih.
Program Perlindungan dan Kesejahteraan TKI/TKW hingga Tahun 2025
Pemerintah Indonesia telah dan akan terus menjalankan berbagai program untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan TKI/TKW. Program-program ini mencakup pelatihan pra-penempatan, penempatan kerja yang terjamin, akses terhadap layanan kesehatan dan perlindungan hukum, serta bantuan pemulangan jika diperlukan. Salah satu contohnya adalah peningkatan kerjasama bilateral dengan negara tujuan untuk memastikan hak-hak TKI/TKW terlindungi dan terpenuhi. Selain itu, peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap kasus-kasus pelanggaran hak TKI/TKW juga menjadi fokus utama. Pemerintah juga berinvestasi dalam teknologi informasi untuk memudahkan akses informasi dan pelaporan bagi TKI/TKW.
Hak-Hak TKI/TKW dalam Peraturan Perundang-undangan
Berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia menjamin hak-hak TKI/TKW. Peraturan-peraturan ini mengatur aspek-aspek penting seperti upah layak, jam kerja, cuti, kesehatan, dan perlindungan dari eksploitasi. Berikut beberapa poin penting terkait hak-hak tersebut:
- Hak atas upah minimum sesuai standar negara tujuan dan peraturan Indonesia.
- Hak atas jam kerja yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan perjanjian kerja.
- Hak atas cuti tahunan dan cuti sakit.
- Hak atas akses layanan kesehatan yang memadai.
- Hak atas perlindungan dari kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi.
- Hak atas kepastian hukum dan akses keadilan.
- Hak atas pemulangan jika terjadi permasalahan.
Perbandingan Tingkat Perlindungan dan Kesejahteraan di Berbagai Negara Tujuan
Tingkat perlindungan dan kesejahteraan TKI/TKW bervariasi di berbagai negara tujuan. Beberapa negara memiliki regulasi yang kuat dan penegakan hukum yang efektif dalam melindungi TKI/TKW, sementara negara lain masih menghadapi tantangan dalam hal ini. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti regulasi ketenagakerjaan negara tujuan, budaya setempat, dan tingkat pengawasan pemerintah Indonesia di negara tersebut. Sebagai contoh, negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara memiliki kondisi yang berbeda dalam hal perlindungan dan kesejahteraan TKI/TKW.
Kutipan Peraturan Pemerintah atau Laporan Resmi
Meskipun tidak dapat menyertakan kutipan secara langsung tanpa melanggar hak cipta, perlu dicatat bahwa berbagai peraturan pemerintah dan laporan resmi dari Kementerian Ketenagakerjaan dan lembaga terkait secara berkala mengevaluasi dan memperbaiki sistem perlindungan TKI/TKW. Laporan-laporan ini seringkali memuat data statistik terkait jumlah TKI/TKW, negara tujuan, kasus pelanggaran hak, dan upaya pemerintah dalam penanganannya. Informasi ini dapat diakses melalui situs web resmi pemerintah.
Perbedaan TKI dan TKW di tahun 2025 mungkin tak seluas perbedaan jenis pekerjaan yang mereka jalani. Namun, perlu diingat bahwa besaran gaji pun turut memengaruhi. Untuk gambaran, Anda bisa melihat informasi mengenai Berapa Gaji TKI Arab Saudi 2019 2025 sebagai salah satu faktor penentu. Data gaji tersebut bisa menjadi pertimbangan dalam melihat perbedaan potensi penghasilan antara TKI dan TKW, meskipun faktor lain seperti skill dan negosiasi juga berperan penting dalam menentukan pendapatan akhir mereka di tahun 2025.
Intinya, perbedaan TKI dan TKW tak hanya dilihat dari jenis pekerjaan saja, tetapi juga dari potensi penghasilan yang bisa dicapai.
Tantangan dan Solusi dalam Perlindungan dan Kesejahteraan TKI/TKW
Tantangan dalam melindungi dan meningkatkan kesejahteraan TKI/TKW di masa depan cukup kompleks. Beberapa tantangan utama meliputi perubahan kebijakan di negara tujuan, perdagangan manusia, dan kurangnya kesadaran hukum di kalangan TKI/TKW sendiri. Untuk mengatasi tantangan ini, solusi yang dapat diterapkan antara lain peningkatan kerjasama internasional, penguatan pengawasan dan penegakan hukum, peningkatan literasi hukum dan kesadaran hak asasi manusia bagi TKI/TKW, serta pengembangan program pelatihan yang komprehensif dan berkelanjutan.
Dampak Migrasi TKI/TKW terhadap Indonesia dan Negara Tujuan
Migrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), baik laki-laki maupun perempuan (TKW), memiliki dampak yang kompleks dan multifaset terhadap perekonomian Indonesia, negara tujuan, serta kehidupan sosial budaya masyarakat di kedua belah pihak. Dampak ini perlu dipahami secara menyeluruh untuk merumuskan kebijakan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Dampak Ekonomi Migrasi TKI/TKW terhadap Perekonomian Indonesia
Remitansi yang dikirimkan TKI/TKW merupakan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Aliran dana ini membantu mengurangi kemiskinan di daerah asal, meningkatkan pendapatan rumah tangga, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, di sisi lain, keberangkatan TKI/TKW dalam jumlah besar dapat menimbulkan kekurangan tenaga kerja di sektor-sektor tertentu di Indonesia, terutama di sektor pertanian dan perkebunan, yang berpotensi menghambat produktivitas nasional. Perlu dipertimbangkan pula potensi brain drain, terutama jika TKI/TKW yang memiliki keahlian tinggi memilih untuk bekerja di luar negeri dalam jangka waktu yang lama.
Peran Pemerintah dan Lembaga Terkait dalam Mengelola Migrasi TKI/TKW: Bagaimanakah Perbedaan TKI Dengan Tkw 2025
Pengelolaan migrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI), baik laki-laki maupun perempuan (TKW), merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan berbagai lembaga terkait. Keberhasilan pengelolaan ini sangat krusial dalam melindungi hak-hak TKI, memastikan kesejahteraan mereka, dan mencegah eksploitasi. Peran setiap lembaga saling berkaitan dan harus terkoordinasi dengan baik untuk mencapai tujuan tersebut.
Lembaga Pemerintah dan Swasta yang Berperan dalam Pengelolaan Migrasi TKI/TKW
Berbagai lembaga, baik pemerintah maupun swasta, memiliki peran penting dalam proses migrasi TKI/TKW. Koordinasi yang efektif di antara mereka sangat diperlukan untuk menjamin perlindungan dan pemberdayaan TKI/TKW secara optimal. Berikut beberapa lembaga kunci tersebut:
- Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker): Bertanggung jawab atas kebijakan, pengawasan, dan perlindungan TKI/TKW di luar negeri. Kemnaker juga berperan dalam pelatihan dan peningkatan kompetensi calon TKI/TKW.
- Kementerian Luar Negeri (Kemenlu): Melindungi kepentingan dan hak-hak TKI/TKW di luar negeri melalui perwakilan diplomatik di berbagai negara. Kemenlu juga berperan dalam penanganan masalah dan pemulangan TKI/TKW yang mengalami kesulitan.
- Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) (sekarang terintegrasi ke dalam Kemnaker): Peran utamanya adalah mengatur dan mengawasi proses penempatan TKI/TKW ke luar negeri, memastikan legalitas dan perlindungan mereka.
- Kepolisian Republik Indonesia (Polri): Berperan dalam penegakan hukum terkait perdagangan manusia dan eksploitasi TKI/TKW.
- Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM): Berbagai LSM berperan dalam advokasi, pendampingan, dan pembelaan hak-hak TKI/TKW, baik di dalam maupun di luar negeri. Mereka seringkali memberikan bantuan hukum dan dukungan sosial.
- Agen Penempatan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) yang berizin: Bertanggung jawab atas proses perekrutan, pelatihan, dan penempatan TKI/TKW secara legal dan bertanggung jawab. Peran mereka diawasi ketat oleh pemerintah.
Peran Masing-Masing Lembaga dalam Melindungi dan Memberdayakan TKI/TKW
Setiap lembaga memiliki peran spesifik dalam melindungi dan memberdayakan TKI/TKW. Kolaborasi antar lembaga sangat penting untuk memastikan efektivitas perlindungan dan pemberdayaan tersebut.
Lembaga | Peran dalam Perlindungan dan Pemberdayaan TKI/TKW |
---|---|
Kemnaker | Pembuatan kebijakan, pengawasan, pelatihan, dan advokasi. |
Kemenlu | Perlindungan di luar negeri, penanganan masalah, dan pemulangan. |
(Bekas) BNP2TKI | Pengaturan dan pengawasan penempatan TKI/TKW. |
Polri | Penegakan hukum terkait perdagangan manusia dan eksploitasi. |
LSM | Advokasi, pendampingan, dan bantuan hukum. |
Agen PPMI berizin | Perekrutan, pelatihan, dan penempatan TKI/TKW yang legal dan bertanggung jawab. |
Proses Perekrutan, Penempatan, dan Pemulangan TKI/TKW
Proses migrasi TKI/TKW melibatkan tahapan yang kompleks dan memerlukan koordinasi yang baik antar lembaga. Diagram alir berikut menggambarkan proses tersebut (disederhanakan):
(Diagram alir tidak dapat ditampilkan dalam format HTML plaintext. Namun, diagram tersebut akan menampilkan alur berikut: Calon TKI mendaftar ke agen PPMI berizin → Proses seleksi dan pelatihan → Pengurusan dokumen dan visa → Penempatan di negara tujuan → Monitoring dan perlindungan selama bekerja di luar negeri → Pemulangan ke Indonesia setelah masa kontrak berakhir atau jika terjadi masalah.)
Strategi Peningkatan Peran Pemerintah dalam Melindungi TKI/TKW dari Eksploitasi dan Perdagangan Manusia
Pemerintah perlu meningkatkan upaya pencegahan dan penindakan terhadap eksploitasi dan perdagangan manusia yang melibatkan TKI/TKW. Beberapa strategi yang dapat dijalankan antara lain:
- Peningkatan pengawasan terhadap agen penempatan TKI/TKW dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran.
- Peningkatan kerjasama internasional untuk mencegah perdagangan manusia dan melindungi TKI/TKW di luar negeri.
- Sosialisasi dan edukasi kepada calon TKI/TKW mengenai hak-hak mereka dan potensi risiko eksploitasi.
- Pengembangan sistem perlindungan dan bantuan yang lebih komprehensif bagi TKI/TKW yang mengalami masalah di luar negeri.
Kolaborasi Antar Lembaga Pemerintah dan Swasta dalam Meningkatkan Perlindungan dan Kesejahteraan TKI/TKW
Kolaborasi yang efektif antara lembaga pemerintah dan swasta sangat penting untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan TKI/TKW. Hal ini dapat dilakukan melalui:
- Penguatan koordinasi dan komunikasi antar lembaga melalui forum-forum resmi.
- Pengembangan sistem informasi terintegrasi untuk memantau dan melindungi TKI/TKW.
- Pembentukan tim gabungan untuk menangani kasus-kasus eksploitasi dan perdagangan manusia.
- Dukungan pendanaan dan sumber daya yang memadai untuk program perlindungan TKI/TKW.